Feature##Ikhlas dan Sabar Diterpa Pandemi Covid-19 -->

Advertisement

Feature##Ikhlas dan Sabar Diterpa Pandemi Covid-19

Kamis, 26 November 2020

JAJANAN KUE BASAH.
Riza saat melayani pembeli jajanan kue basah buatan ibunya. ( foto swisma)



GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Siapapun insan di dunia ini pasti berharap agar maksud dan keinginannya tercapai, sehingga akan memperoleh kebahagian dan kesejahteraan dalam kehiduannya. Sebaliknya, tidak ada satupun jua yang bisa menolak bencana atau musibah. Semuanya itu datang dari Tuhan, Sang Pencipta dan yang Maha Kuasa.

Untuk itu kita sebagai ciptaanNya hanya bisa berserah diri dan berdoa serta berusaha mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan ini.

Begitu jugalah yang dialami Yulidar. Ibu rumah tangga ini berupaya ikhlas dan sabar diterpa pandemi Covid-19.

Bagaimana tidak, pasca mewabahnya virus yang berasal dari Wuhan, China ke Indonesia Maret 2020 itu, perekonomian rumah tangganya mengalami perubahan yang cukup drastis.

Ditemui di kediamannya Jalan Raya Menteng Gang Budi Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai, Yulidar yang sehari-harinya bisnis kuliner kue basah dengan menjual aneka penganan tradisional ini mengaku sedih. Namun dia berusaha tetap sabar dan ikhlas karena merasa ini juga bagian dari ujian (cobaan) dari Allah SWT.

Ibu rumahtangga beranak empat orang ini menyebutkan, sebelum mewabahnya pandemic Covid-19, usaha kuliner yang ditekuninya sejak suaminya tidak bekerja lagi sekira 6 tahun lalu sempat terhenti lebih kurang 2 bulan lamanya, karena kue basah yang dijual tidak laku akibat pembeli berkurang, bahkan samasekali tidak ada pembeli.

Menurut Bu Dar, sebutan akrab dari para langganannya, sebelum ada Covid-19 dia bisa memperoleh keuntungan dari omzet antara Rp 600-an ribu hingga Rp 800 ribu per harinya.

Namun keuntungan bisnis kulinernya itu perlahan berkurang dan menurun drastis lebih dari 50 persen sejak Covid-19 merebak. Dia hanya mendapatkan keuntungan sangat sedikit dari omzet sekira Rp 250 ribuan per harinya.

Bahkan di awal pandemi, ada peristiwa yang membuatnya sangat sedih. Pasalnya kue basah yang dipajang di steling kaca dan dijajakan di pinggir jalan sekitar 200 meter dari kediamannya itu samasekali tidak ada yang beli. Karena takut mubazir, kue-kue tersebut dibagi ke jamaah masjid di dekat rumahnya dan beberapa tetangganya.

“Saya sangat sedih dengan musibah yang terjadi saat ini. Bisnis kue basah yang kami tekuni menjadi ‘mandek’. Secara otomatis juga mempengaruhi kehidupan ekonomi rumahtangga,” ungkap Bu Dar, Selasa (24/11).

Dalam menjalankan bisnisnya itu, Bu Dar dibantu suami dan anak-anaknya yang sudah dewasa. Dia juga mempercayakan salah seorang anaknya untuk menjajakan kuenya tersebut karena sudah merasa lelah memasak beraneka ragam kue basah.

Meskipun Bu Dar tidak ikut mengawasi anaknya berjualan, tapi dia selalu menekankan agar anaknya menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker.

Bahkan Bu Dar juga mengingatkan anaknya agar pembeli untuk tidak terlalu rapat saat antri atau memilih panganan yang diinginkan.

Meskipun mengalami kesulitan akibat diterpa pandemi Covid-19, disatu sisi Bu Dar bersyukur karena dia dan keluarganya diberi kesehatan.

Selain itu bisnis kulinernya sampai saat ini masih berjalan meskipun dengan penghasilan jauh berkurang hingga 50 persen.

Bu Dar mengakui dia terus berusaha ikhlas dan sabar karena kondisi yang terjadi saat ini bukan hanya dirinya saja yang mengalami masa sulit akibat pandemi Covid-19 tapi di hampir segala bidang juga mengalaminya.

Bagi BuxDar, kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci di dalam menghadapi setiap cobaan. Sebab, dibalik itu diyakininya akan menambah kesempurnan ibadahnya kepada Allah SWT.

"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan," katanya saat menyampaikan salah satu terjemahan ayat suci Alquran yang dipedomaninya.

Begitupun Bu Dar berharap agar pandemi covid-19 ini segera berlalu sehingga ketakutan akan wabah yang bisa mematikan itu hilang.

Selain itu perekonomian juga mengalami perputaran serta anak-anak bisa ke sekolah ataupun ke kampus mendapatkan pembelajaran tatap muka secara laangsung, tidak lagi online. (swisma)