2021 Pasar Saham Diwarnai Kehadiran Emiten Baru -->

Advertisement

2021 Pasar Saham Diwarnai Kehadiran Emiten Baru

Sabtu, 09 Januari 2021

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN

Sepanjang 2020 PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 51 emiten baru dengan nilai fund raising mencapai Rp118,7 triliun.

Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai bursa dengan jumlah IPO terbanyak di kawasan ASEAN. Begitupun jumlah IPO tahun ini lebih mini dibanding realisasi sepanjang  2019 yang mencapai 55 emiten.

"Pada 2021 BEI menargetkan IPO yang cukup moderat yakni 30 emiten. Walau lebih kecil dibanding tahun sebelumnya," kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada pembukaan perdagangan BEI  2021, Senin ( 4/1/2021).


Dari jumlah tersebut, investor dengan usia di bawah 30 tahun mendominasi dengan porsi 54,79 persen dari total investor di pasar modal.

Dengan demikian, total perusahaan tercatat di BEI sampai akhir 2020 sebanyak 713 emiten. Pasar saham 2020 juga mencatat rekor frekuensi transaksi harian tertinggi pada 22 Desember yang mencapai 1,69 juta transaksi dengan rata-rata nilai transaksi di tahun 2020 mencapai Rp9,21 triliun per hari. Partisipasi aktif investor ikut menentukan lonjakan berbagai indikator tersebut karena selama 2020.

Hartarto berharap jumlah nilai emisi yang dihimpun akan signifikan. Demikian juga jumlah dari dana bisa cukup signifikan, apalagi SBN sekarang sangat rendah.

Menurutnya dengan SBN yang rendah ini, sekitar 3,64%, bisa mendorong lebih banyak IPO ataupun mencari dana dari pasar modal.

"Pasar modal Indonesia tahun 2021 juga akan disemarakkan dengan pencatatan Surat Berharga Negara maupun obligasi korporasi," ujarnya.

Ia juga yakin ketidakpastian pasar modal  akibat pandemi selama 2020 akan berakhir.

Menurutnya, tingkat kepercayaan pelaku pasar akan pulih sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) akan terkerek hingga kisaran 6.800-7.000 pada akhir Desember 2021.

Sementara itu, dalam siaran pers diterima rakyatmedan, Sabtu (9/1/2021) Kepala Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution menyebutkan, setelah libur akhir tahun, aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia di 2021 telah dimulai.

Pada perdagangan perdana tersebut hadir Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi.

Optimisme terlihat di pasar modal sejalan dengan penurunan risiko ketidakpastian di pasar keuangan global dan IHSG diprediksi bisa mencapai 6.800 atau 7.000 di akhir Desember 2021.

Pelaku pasar diimbau untuk tetap optimistis karena pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan stimulus untuk memacu pertumbuhan ekonomi tahun 2021.

Selain berbagai strategi mendorong pemulihan ekonomi, pemberlakuan UU Cipta Kerja juga akan direspons positif oleh pasar saham.  Lebih dari itu, menurut Airlangga, dimulainya program vaksinasi awal tahun ini  akan semakin memperkuat sentimen positif yang sudah terlihat sejak akhir tahun 2020.  

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, tren positif pasar moda 2021 merupakan kelanjutan kinerja positif sepanjang 2020, meski tekanan yang ditimbulkan oleh Pandemi COVID-19 sangat kuat.

Setelah mencapai titik terendah yang ditandai dengan penurunan IHSG hingga level 3.900 pada Maret 2020, pasar saham Indonesia berhasil rebound dan menutup tahun 2020 dengan posisi IHSG 5.979,07 pada 30 Desember.

Tekanan akibat Pandemi COVID-19 tak menghalangi Pasar Modal Indonesia mencatat sejumlah milestone penting. Sepanjang 2020, rata-rata investor aktif per hari mencapai 95 ribu per hari atau meningkat 75 persen dari tahun 2019 yakni 55 ribu per hari. Diikuti dengan jumlah investor aktif ritel per hari yang meningkat empat kali lipat dibanding 2019.

Seiring dengan itu, jumlah total investor berdasarkan jumlah Single Investor Identification (SID) saham, reksadana, dan obligasi  juga meningkat hingga 56 persen menjadi 3,88 juta investor.

Milestone penting ini menjadi modal melewati tahun 2021. Selain itu,salah satu modal penting pasar modal 2021 adalah diresmikannya securities crowdfunding (SCF) pada hari pertama perdagangan tahun 2021.

Securities crowdfunding merupakan skema pembiayaan alternatif penggalangan dana melalui pasar modal.

Melalui skema ini, sebuah bisnis atau individu dapat mencari pendanaan dari satu atau beberapa investor di pasar modal. Selain itu, dana yang dihimpun bisa dilindung nilai (hedge) untuk jangka waktu tertentu.

Wimboh Santoso juga mengatakan, skema penawaran efek melalui layanan urun dana berbasis teknologi ini memberi kesempatan bagi pengusaha muda maupun kelompok UKM untuk menggalang dana dari pasar modal. Pada saat yang sama, para pemilik dana dapat berinvestasi di pasar modal. (swisma)