BEI Edukasi Investor Pemula untukPilih Saham -->

Advertisement

BEI Edukasi Investor Pemula untukPilih Saham

Kamis, 11 Februari 2021

  
GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Belakangan sejumlah pesohor sekaligus influencer di media sosial banyak yang bercerita soal investasi saham. Ada pula yang menyampaikan sejumlah saham-saham yang mereka miliki besaran keuntungan yang mereka dapatkan dari investasi saham. Informasi tentang investasi saham di media sosial lewat laman milik para influencer ini di satu sisi menjadi promosi bagi para milenial.

Sejak lama, pelaku pasar modal termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya meningkatkan jumlah investor pasar modal untuk memberi kesempatan masyarakat menikmati keuntungan di masa depan melalui investasi saham. 

Namun, jumlah investor di pasar modal hingga kini belum berkembang signifikan. Jumlah investor saham saat ini baru sekitar 1,5 juta investor atau 0,5% dari total populasi 260 juta jiwa.

Upaya sosialisasi dan edukasi selama ini ditujukan anak-anak muda atau milenial, agar saat mereka sudah bekerja atau memiliki usaha di usia dewasa, mereka sudah memiliki kemahiran dalam berinvestasi.

“Terbukti, adanya media sosial yang menunjukkan banyaknya pesohor berinvestasi menjadi jendela bagi kaum muda untuk lebih sering mendengar investasi saham,” kata Kepala Kantor Perwakilan, Bursa Efek Indonesia Sumatera Utara, Pintor Nasution dalam keterangan tertulis diiterima redaksi, Kamis (11/2/2021)

Namun, ada kalanya, informasi yang disampaikan para pesohor cenderung memberikan pernyataan yang menjanjikan hasil investasi atas saham tertentu. Keuntungan yang mereka dapatkan dari satu atau beberapa saham mereka publikasi di sosmed. Sehingga dikhawatirkan, para pemula yang ingin memulai berinvestasi cenderung ikut memilih saham-saham yang dimiliki para selebritas tersebut.

Padahal, pertimbangan dalam berinvestasi saham terutama bukan berasal dari pendapat seseorang atau sekelompok orang. Karena pernyataan ini bisa menyesatkan bahkan bisa memberikan keuntungan bagi pihak tertentu dan merugikan pihak lainnya.

Mengapa demikian? Kenaikan harga saham salah satunya ditentukan berdasarkan hukum permintaan. Jika saham tertentu diminati banyak orang (banyak yang mau membeli), maka harga saham akan naik mengikuti hukum supply and demand.

Bayangkan, jika ada seorang influencer di media sosial menyebutkan nama saham yang dimilikinya, apalagi dengan informasi keuntungan besar yang mereka dapatkan, lalu kemudian investor ramai-ramai ingin membeli saham tersebut, maka harga akan naik. 

Pembeli terakhir akan mendapatkan harga beli yang paling tinggi. Sementara investor yang lebih awal memiliki saham ini, akan menikmati keuntungan yang besar karena dia bisa menjual saham miliknya dengan return yang tinggi ketika harganya sudah melambung. Kenaikan harga tersebut akan dipicu dari permintaan beli, bukan berdasarkan kinerja fundamental saham perusahaan.  

Jadi, kata Pintor bagi para investor pemula, sebaiknya memilih saham bukan berdasarkan informasi dari investor lainnya, melainkan berdasarkan analisa atas kinerja perusahaan yang sahamnya hendak dibeli. 

Analisa saham bisa diperoleh dari perusahaan sekuritas tempat investor membuka rekening saham. Sumber lainnya, seperti dari laporan keuangan perusahaan secara langsung yang dipublikasi di website perusahaan, atau di media publikasi. 

Informasi yang ada di media sosial (sosmed) cukup jadi pemacu para milenial mempelajari cara berinvestasi saham di pasar modal Indonesia.

“Pilihlah saham perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang bagus, atau yang memiliki potensi perkembangan yang baik di masa depan, yang biasanya dipaparkan dalam analisa saham yang dibuat analis pasar modal,” ungkapnya.
Selain itu bandingkanlah harga saham perusahaan yang tercatat di BEI dengan harga buku per saham yang bisa dilihat di Laporan Keuangan perusahaan.

Dijelaskan Pintor, jika harga saham atau harga yang diperjualbelikan jauh melebihi harga buku per saham (nilai buku perusahaan) atau nilai wajar perusahaan, maka harga tersebut artinya sudah melebihi harga wajar. 

Kenaikan bukan berasal dari perkembangan kinerja, tapi dari mekanisme pasar (banyaknya permintaan karena saham tersebut ada potensi turun menyamai harga buku sahamnya.

Investor yang memiliki saham yang overvalued ini bisa mengalami kerugian dari harga saham yang turun, ketika banyak investor yang melakukan penjualan atas saham tersebut. 

Menurutnya jika harga saham sudah naik tinggi, investor-investor yang memiliki saham lebih awal akan melakukan aksi jual untuk merealisasikan keuntungan dan menikmati return. Investor yang membeli di harga tinggi akan mengalami kerugian.

Sebaliknya, jika harga saham yang diperjualbelikan di bawah harga buku perusahaan, maka saham tersebut akan cenderung naik mengikuti harga wajarnya. Walaupun kenaikannya mungkin tidak cepat, tapi dalam jangka panjang akan menguntungkan saat harga saham mulai mendekati nilai wajarnya.

“Itu sebabnya, faktor utama yang perlu dipertimbangkan saat memilih saham untuk pemula adalah mencari saham berdasarkan kinerja fundamental yang baik,” bebernya

Pilihlah saham perusahaan yang dipahami industrinya. Atau paling tidak dipelajari lebih dahulu bagaimana karakter bisnisnya dan kompetisinya di industri.

Faktor berikutnya, berinvestasi dalam jangka panjang pada perusahaan yang secara fundamental baik, dapat menjaga risiko fluktuasi harga dan juga akan menikmati potensi keuntungan yang lebih besar.  Karena biasanya  berinvestasi di saham dalam jangka panjang, bertujuan membiayai kebutuhan di masa depan agar tidak tergerus inflasi. Sisihkanlah dana investasi dari uang yang idle, atau yang tidak terpakai.

Pintor mengatakan jangan ambil dana investasi dari uang kebutuhan bulanan. Dalam jangka pendek bisa saja harga saham mengalami fluktuasi naik dan turun akibat faktor non fundamental seperti krisis ekonomi, politik, sosial atau situasi yang terjadi di industri di mana perusahaan bergerak.

“Alokasikan dana investasi saham paling pendek antara 3-5 tahun. Lebih panjang lagi akan lebih baik, karena akan melewati siklus krisis ekonomi yang umumnya terjadi setiap lima tahun sekali,” demikian Pintor Nasuyion. (swisma)