23 Tahun Kebersamaan untuk Indonesia, Rumah Zakat Rawat Semangat Berbagi Kebahagiaan -->

Advertisement

23 Tahun Kebersamaan untuk Indonesia, Rumah Zakat Rawat Semangat Berbagi Kebahagiaan

Sabtu, 03 Juli 2021



GLOBALMEDAN.COM.MEDAN
Kamaluddin, seorang pemuda relawan Rumah Zakat dengan badan terbungkus Alat Pelindung Diri (APD) sedang tergeletak dengan mata terbenam di selasar Masjid Al Islah, Palasari, Bandung setelah seharian ia menyemprot cairan disinfektan ke fasilitas public.

Hari itu saja, ia harus melakukan penyemprotan di lima tempat berbeda dengan perlengkapan full APD, masker, dan menjinjing alat yang ia gendong menuju tempat-tempat tersebut. Tak kuasa menahan lelah, Kamal pun merebahkan dirinya sejenak, sebelum kembali melanjutkan perjuangannya. 

Menurut Kamal, penyemprotan itu membuat sesak napas sekali. Namun, kata Kamal, itu risiko bagi mereka yang bertugas. Ia pun berharap semoga ikhtiar ini membuat COVID-19 tidak semakin meluas.

Kamal tentu tidak sendirian. Di tengah sebagian dari mereka yang bisa melakukan Work From Home (WFH), ada ratusan relawan lainnya yang menyalurkan makanan, membantu sosialisasi hidup bersih sehat, hingga menyusur lorong kampung untuk membersamai mereka yang membutuhkan.

"Pandemi ini benar-benar membuat kita begitu terpukul hebat. Namun di sisi lain menyisakan harapan, bahwa dengan kebersamaan, insya Allah kita bisa melalui pandemi ini, seperti berita tentang tumbuhnya kedermawanan masyarakat Indonesia bahkan di masa-masa sulit seperti ini," ungkap Nur Efendi, CEO Rumah Zakat, dalam pesan tertulisnya diterima redaksi, Sabtu (3/7/2021).

Dia menuturkan, dua pekan lalu pada pertengahan Juni 2021, Charities Aid Foundation (CAF) dalam Laporan Indeks Kedermawanan Dunia atau World Giving Index (WGI) 2021, rupanya kembali menobatkan Indonesia, sebagai negara paing dermawan di dunia.

"Artinya apa? Di tengah pandemi ini, justru banyak masyarakat yang ingin membersamai masyarakat lainnya: saling berbagi!" tukasnya.

Disebutkannya, temuan CAF tahun 2021 ini tercatat bahwa 8 dari 10 orang Indonesia berdonasi di tengah suasana pandemi ini, dengan tingkat kesukarelawanan di Indonesia lebih tinggi dari negara-negara lain, yakni tiga kali lipat dari rata-rata global. 

Sebuah penelitian dalam  Jurnal Harvard Bussiness School (2009) yang berjudul Feeling Good about Giving: The Benefits (and cost) of SelfInterested Charitable Behaviour, menyebutkan bahwa dengan berbagi, sesungguhnya kita semakin bahagia.

"Semangat berbagi kebahagiaan ini yang terus kami rawat, 23 Tahun Kebersamaan untuk Indonesia. Dengan semangat kebersamaan, insya Allah bangsa Indonesia kuat melewati pandemi ini. Alhamdulillah, di masa pandemi ini, Rumah Zakat telah menyalurkan amanah untuk masyarakat terdampak Covid-19," ungkapnya.

Rumah Zakat menyiapkan 19 lumbung pangan untuk ketahanan pangan di masa pandemi. Sebanyak 13.800 paket perlengkapan kesehatan, 1.000 titik sterisasi fasilitas pubik, 418 ribu masker, 118 ribu paket makanan dan suplemen, hingga 500 ribu paket Superqurban, 1.500 bantuan UMKM,  diterima para penerima manfaat melalui 11 ribu relawan inspirasi di 250 kota kabupaten 34 provinsi seluruh Indonesia.

"Kami akan terus membersamai Indonesia," ujar Nur Efendi.

Momentum Kebersamaan Sahabat, di usia Rumah Zakat ke-23 ini, Nur Efendi menyatakan ingin terus membersamai masyarakat Indonesia. Menurutnya usia tidak hanya berbicara tentang lamanya Rumah Zakat hadir di dunia, tapi seberapa banya manfaat yang dapat dihadirkan untuk kebahagiaan sesama.

Ia juga melihat di tengah suasana pandemi,  di antara rintihan dan gemerucuk perut di sudut kampung kota, rupanya selalu ada dari kita yang hendak berbagi, membersamai mereka yang sangat membutuhkan. 

Ia juga menekankan, rasa optimisme di tengah ketidakpastian ini harus terus dipupuk bahwa kita bisa bangkit dari pandemi dan ini adalah momentum kebersamaan. 

"Bahwa kita tak pernah benar-benar sendiri!"ucapnya.

Dituturkannya, dulu sekali ketika Indonesia baru merdeka, saat tidak ada yang ingin mengakui negeri ini, datanglah seorang utusan Liga Arab Tuan Abdul Mun’im bertaruh nyawa dengan menembus blokade Belanda terbang dengan pesawat sewaan menuju Yogyakarta hanya ingin menyampaikan pesan: Kita tidak sendiri!

"Kita ingin peristiwa itu terulang kembali, bahkan di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Di usia ke-23 ini, kami haturkan terima kasih terhadap ratusan ribu donator, mitra, amil dan ribuan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang terus membersamai Indonesia melewati masa-masa sulitnya," katanya.

Saat ini, menurutnya, diperlukan semangat kebersamaan untuk mengahadapi pandemi. Kebersamaan akan menimbulkan energi besar untuk bangkit,  energi kebahagiaan. Rasa Lelah kang Kamal dan para tenaga medis yang terus berjuang menjadi energi tersendiri, bahwa kita harus terus bergerak.

23 tahun lalu, sepenggal 1998, Rumah Zakat hadir ruang sempit di tengah krisis moneter. 

"Kini, di masa-masa sulit pun, kami tetap hadir membersamai masyarakat menghadirkan kebahagiaan untuk 38 juta layanan penerima manfaat melalui program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan hingga program kemanusiaan," ujarnya.

Dalam 23 tahun ini, Rumah Zakat, dengan 54 penghargaan seperti Baznas Award (2020), Anugrah Syariah Republika (2020), Gifa Awards (2020), Global Good Governance Award (2021) dan lainnya, telah bertransformasi menjadi World Digital Philantrophy, menghadirkan 1,700 desa berdaya, 18 sekolah juara, 8 klinik pratama, memberdayakan 20% mustahik yang terbebas dari garis kemiskinan, hingga jutaan donator dan mitra membersamai masyarakat menghadirkan energi kebahagiaan.

"Tentu, ini merupakan kepercayaan dan amahan yang harus kami rawat, sebagaimana Allah akan senantiasa menolong hambaNya yang ingin membahagiakan saudaranya," katanya.

Ia pun berharap, di usianya ke-23, Rumah Zakat, semakin bermanfaat untuk kebahagiaan Indonesia hingga dunia. (swisma)