Tak Berpangku Tangan, Pelaku UMKM Ini Gali Kreativitas di Tengah Pandemi -->

Advertisement

Tak Berpangku Tangan, Pelaku UMKM Ini Gali Kreativitas di Tengah Pandemi

Senin, 12 Juli 2021

MEDAN, JAM 11.00 WIB
Pandemi Covid-19 memberi tekanan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berdampak pada pendapatan, laba, dan arus kas. Jadi tidak heran jika saat ini ada pemilik usaha memilih untuk wait and see.

Data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Utara mengungkapkan sebanyak 672.000 dari total 960.000 UMKM dan 7.700 dari 11.000 koperasi terdampak pandemi covid-19 yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Ulet dan tahan banting serta semangat tentunya menjadi faktor mendukung maju atau tidaknya UMKM. Karena itu pelaku UMKM harus bisa mencari terobosan dalam pemasaran produk-produk yang dihasilkannya.

Hal itulah yang dilakukan owner Galery Ulos Sianipar Medan, Robert Maruli Tua Sianipar SE. Menurutnya  inovasi bagi para pelaku usaha dalam menghadapi serangan pandemi Covid -19 sangat penting dilakukan saat ini 

“Kita harus menyikapinya dengan tenang dan sabar, jangan terlalu grusa-grusu atau tergesa-gesa yang nantinya tidak tentu arah. Untuk pandemi ini kita berfikir bagaimana cara kita membuat inovasi baru,” ungkap Robert, Senin (12/7/2021)  

Dia menyebutkan pengusaha ulos itu tidak satu atau dua, tapi ada beribu di seluruh Indonesia. Karenanya perlu dilakukan pendekatan dengan membentuk desain yang baru, memberikan harga semurah mungkin tapi tidak menjatuhkan harga orang lain. 

“Selain itu juga perlu dilakukan join dengan usaha-usaha lain yang sejenis dengan kita. Itu langkah dan cara yang bisa ditempuh di waktu pandemi Covid ini,” katanya. 

Robert mengaku pernah mengalami penurunan omset 90 persen, bahkan sampai membayar karyawan dengan uang sendiri. 

“Sebagai pengusaha kita tidak harus berpangku tangan dan tidak memulangkan karyawan. Terpenting kita lakukan adalah bagaimana ulos itu bisa dinikmati semua orang,” ujarnya.

Menurutnya upaya yang dilakukan itu dengan menghadirkan inovasi baru agar ulos tidak hanya dipakai saat acara adat tapi juga membuat dompet, tas, pernak- pernik lain agar kaum millenial pun tertarik.

Demikian pula inovasi lainnya adalah dari segi kombinasi warna dengan membuat produk ulos warna yang soft ataupun terang menyesuaikan keinginan seluruh segmen masyarakat.

Disebutkan Robert, sebagai UMKM binaan Bank Indonesia (BI), Pertenunan dan Galeri Ulos Sianipar miliknya ini pernah berhasil meraih keuntungan sebesar Rp1,5 miliar per bulan. 
 
Omset tersebut, katanya merupakan pendapatan rata-rata minimal perbulan. Bahkan juga pernah meraup omset sebesar Rp22 miliar pada 2017 dan Rp28 miliar di 2018. 

Untuk itu dia juga mengucapkan terima kasih kepada BI atas berbagai konstribusi yang diberikan kepada bisnis UMKMnya. Karena sebelum dibina BI, UMKM ini hanya mampu mendapatkan omset sebesar Rp150 juta hingga Rp300 juta per bulan.
“Namun saat pandemi seperti ini kita cukup prihatin. Tapi kondisi itu tidak lantas membuat kita lemah, sebaliknya harus lebih ulet dan semangat," ujar Robert seraya menyebutkan saat ini jumlah yang dimiliki Pentenunan dan Galeri Ulos Sianipar sebanyak 76 orang yang berdiri sejak 28 Juni 1992. 

Diakuinya penjualan offline mengalami penurunan di masa pandemi. Kondisi itu dimakluminya karena pelanggan mungkin menjaga jarak dan tidak perlu kontak fisik.

Untuk itu salah satu strategi yang dilakukannya adalah dengan platform digital dan memperluas jangkauan ke beberapa sektor. Apalagi memang di tengah pandemi ini konsumen juga lebih mengandalkan dunia maya dalam memenuhi kebutuhannya.

Karena itu katanya saat ini pentingnya memanfaatkan penjualan online untuk mempertahankan pasar, didukung kurir jasa logistik sebagai garda terdepan pengiriman.  

 “Pengusaha UMKM harus mengoptimalkan pemasaran secara daring dengan tetap memperhatikan kualitas produk yang baik serta strategi untuk mempertahankan basis pelanggan,” kata Robert.

Dengan aplikasi online, Robert berharap pemasaran produk dari UMKMnya akan lebih luas, bukan hanya di daerah dan seluruh Indonesia bahkan dunia. Sehingga dampak pandemi tidak mempengaruhi pemutusan hubungan kerja dengan para petenun dan bisa menghasilkan serta memasarkan karya lokal daerah hingga ke Nusantara dan global . (swisma)