#FEATURE# Dari Pintu ke Pintu Jajakan Kerupuk di Masa PPKM Level 4 -->

Advertisement

#FEATURE# Dari Pintu ke Pintu Jajakan Kerupuk di Masa PPKM Level 4

Kamis, 26 Agustus 2021

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir memberikan dampak yang cukup berat bagi masyarakat miskin. Apalagi menyusul adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

Kebijakan PPKM itu jelas jauh lebih besar dampak tekanannya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah dibandingkan kelas atas.

Kondisi itu sangat dirasakan masyarakat yang berada di garis kemiskinan dan kebanyakan merupakan pekerja di sektor informal yang memperoleh pendapatannya perharian. 

Permasalahan itulah yang dialami Mahrizal, salah seorang dari jutaan masyarakat miskin yang mengalami dampak covid -19 dan penerapan PPKM level 4. Bahkan pemerintah kembali memperpanjang masa PPKM  itu hingga 6 Sepetember 2021 untuk daerahnya di Kota Medan.

Mahrizal (54) warga Jalan Brigjen Katamso Medan ini merupakan karyawan di salahsatu hotel yang mengalami pemutusan hubungan kerja ( PHK) sekira 10 bulan lalu pasca pandemi covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan 3 anaknya itu, Mahrizal melakukan pekerjaan di sektor informal dengan menjual kerupuk mie dan opak sebagai penyambung biaya hidup setelah gaji dan pesangon yang tak seberapa itu habis.

Dibantu istrinya yang setiap hari memasak kerupuk untuk dijual dengan menitipkan di warung- warung, seperti penjual mie sop atau bakso awalnya berjalan lancar.  Dia bisa mendapatkan penghasilan dengan omsetnya hingga Rp 200 ribu bahkan rp 250 ribu setiap hari.

"Tapi sejak adanya kebijakan PPKM level 4 ini, usaha kami itu menurun drastis. Bagaimana tidak, warung- warung yang kami titipkan itu dilarang berjualan. Sudah tentu dampaknya tidak bisa lagi menitipkan jajanan kami itu," ungkap Mahrizal mengisahkan kesedihannya saat menjajakan kerupuk di kediaman salah seorang familinya, Rabu ( 25/8).

Karena tidak ingin larut dalam kesedihan berkepanjangan, Mahrizal tidak hilang akal. Selain masih menitipkan di warung2 kecil, dia juga menjajakan dari pintu ke pintu kepada tetangga di sekitar kediamannya dan temannya semasa kerja serta sanak familinya.

Memang penghasilan yang diperolehnya tidak sebesar dengan menitipkan di warung- warung bakso. Namun hal itu masih disyukurinya dan tetap ikhlas serta sabar menjalaninya.

"Kami harus ikhlas dan bersyukur dengan penghasilan yang kami peroleh di masa pandemi dan PPKM ini. Inilah rezeki yang kami terima saat ini," kata Mahrizal.

Mahrizal berharap pandemi covid-19 ini segera berlalu. Dia meyakini keseriusan pemerintah dalam memutuskan mata rantai penyebaran virus yang mematikan itu bisa berjalan dengan baik jika masyarakat menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Penerapan protokol kesehatan itu bagi Mahrizal hendaknya benar- benar dilakukan masyarakat antara lain membatasi aktivitas di luar rumah, kecuali untuk hal- hal yang sangat penting.

Kemudian menggunakan masker saat berada di sekitar banyak orang atau jika di tempat publik dan menjaga jarak satu sama lain.

Hal yang penting lainnya juga adalah mencuci tangan lebih sering dengan menggunakan sabun dan air. Jika sabun dan air tidak tersedia, bisa menggunakan hand sanitizer.

Karena itu Mahrizal  berupaya menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas kesehariannya termasuk selalu membawa hand sanitizer jika keluar rumah untuk menjajakan kerupuk- kerupuknya itu. ( swisma)