Kepala BI Sumut: Investasi Triwulan II 2021 Meningkat -->

Advertisement

Kepala BI Sumut: Investasi Triwulan II 2021 Meningkat

Selasa, 17 Agustus 2021

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN

Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Sumatera Utara (Sumut) menyatakan, di tengah masa pandemi Covid-19 yang masih berlanjut sampai saat ini, kinerja pertumbuhan ekonomi di Sumatera mencatat perbaikan dengan seluruh provinsi mampu keluar dari zona kontraksi.

"Kinerja investasi juga mulai menunjukkan geliatnya di triwulan II 2021. Permintaan yang tinggi serta pelaksanaan investasi yang tertunda di 2020 membuat investasi di lapangan usaha utama meningkat," kata Kepala BI Sumut, Soekowardojo saat menggelar webinar kedua 2nd sumatranomics, Senin (16/8/202)

Dari sisi industri CPO/ kelapa sawit, peningkatan investasi didorong program replanting dan perluasan pabrik pengolahan existing.

Sementara dari sisi pulp, paper, dan elektronik peningkatan didorong oleh rencana diversifikasi produk yang oleh pelaku usaha di lapangan usaha tersebut.

Perbaikan kinerja investasi pada triwulan II 2021 juga didukung oleh adanya sentimen positif pelaku usaha pasca adanya undang-undang Cipta Kerja.

Disebutkannya per Juli 2021, 6 dari 10 provinsi di Sumatera telah melakukan uji coba aplikasi OSS RBA yang diharapkan dapat mempercepat penyelesaian kendala modul dan mendukung realisasi investasi yang semakin optimal

Soekowardojo menambahkan, pertumbuhan positif itu juga ditopang  peningkatan kinerja TBS dan CPO seiring masih tercukupinya curah hujan, tingginya permintaan batu bara dari negara mitra dagang.

Demikian juga dengan perbaikan mobilitas masyarakat yang mendorong perbaikan lapangan usaha pertambangan dan perdagangan.

Kondisi itu, kata Soekowardojo bertransmisikan pada sisi permintaan melalui perbaikan pendapatan masyarakat seiring perbaikan serapan tenaga kerja, serta optimisme kegiatan investasi dunia usaha.

"Keseluruhan faktor tersebut mendorong perbaikan pendapatan daerah yang berpengaruh pada konsumsi pemerintah," ungkapnya.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Kepulaian Riau dan terendah di Aceh. Sementara Sumut berada pada peringkat ke-9, dengan share terbesar se-Sumatera, Namun Sumut tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Sumatera.

Soekowardojo memaparkan, hasil Survei dan Liaison mengonfirmasi perbaikan konsumsi RT Peningkatan konsumsi masyarakat Sumatera di triwulan II 2021 terkonfirmasi dari perbaikan berbagai indikator terkait konsumsi rumah tangga antara lain likert scale penjualan domestik dan Survei Konsumen ditengah meningkatnya mobilitas masyarakat pada saat HBKN (sebelum PPKM Darurat).

Kondisi tersebut juga ditopang  akselerasi likert scale penjualan di seluruh LU utama yang berimbas pada pendapatan masyarakat.

Kepala BI Sumut mengatakan, masih dari sisi pengeluaran, realisasi pendapatan dan belanja APBD Sumatera secara agregat masih dapat dioptimalkan.

Hal ini terpantau dari realisasi pendapatan dan belanja APBD Sumatera yang masih terbatas sampai dengan triwulan II 2021, sehingga pemerintah daerah perlu mendorong percepatan penyaluran anggaran di sisa tahun 2021 untuk mengungkit momentum pemulihan.

Di sisi lain, net ekspor Sumatera melambat akibat akselerasi impor yang lebih besar dari perbaikan kinerja ekspor.

Ekspor nonmigas mampu tumbuh tinggi seiring dengan peningkatan permintaan negara tujuan ekspor utama dan kenaikan harga CPO, karet dan batubara.

Namun kenaikan impor non-migas tumbuh lebih besar ditengah meningkatnya permintaan domestik baik untuk konsumsi, kebutuhan produksi maupun kebutuhan investasi.

Mencermati perkembangan indeks harga konsumen terkini,  lanjut Soekowardojo IHK wilayah Sumatera terpantau meningkat di bulan Juli 2021. Kenaikan inflasi bersumber dari kenaikan inflasi Volatile Food (VF) dan Administered Prices (AP).

Inflasi yang terjadi pada VF utamanya dipengaruhi kenaikan harga komoditas inflasi cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah, yang terjadi merata hampir di seluruh provinsi di Sumatera, akibat pola musiman pada periode masa tanam dan kendala cuaca.

Adapun kenaikan AP terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar rumah tangga (BBRT) secara terbatas dan deflasi angkutan udara yang tidak sebesar bulan sebelumnya.

Sementara tekanan harga pada kelompok inti cenderung melambat dipengaruhi oleh perlambatan harga emas global, dan penurunan harga mobil akibat pemberian insentif pajak.

"Secara spasial, seluruh provinsi di Sumatera mencatatkan kenaikan inflasi tahunan namun masih berada pada rentang inflasi yang aman," bebernya.

Ke depan, inflasi 2021 diperkirakan meningkat dari tahun 2020 namun masih berada pada kisaran sasaran inflasi nasional 3±1% (yoy).

Webinar kedua 2nd sumatranomics ini mengusung tema “Leveraging Digital Economy Potential for Better Tomorrow” menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya yakni; Lis Sutjiati (Staf Khusus Menteri Kominfo Bd. Ekonomi Digital (2014-2019), dan Moh. Rosihan (Asosiasi E-commerce Indonesia IdEA).

Turut hadir pada kegiatan itu, Ketua Dewan Riset dan Inovasi Sumatera Utara Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan merangkap Plt. Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Sumatera Utara, Ir. Arief Sudarto Trinugoho, Asisten Administrasi Umum merangkap Plt. Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Utara, Dr. Ir. Hasmirizal Lubis.

Selain itu hadir juga,Sekretaris Dewan Riset dan Inovasi Sumatera Utara, Dr. Danilsyah, Dewan Penilai 2nd Sumatranomics, Prof. Arief Anshory Yusuf, Prof. Dr. Noer Azam Achsani, Djoni Hartono, Prof. Dr Muhammad Firdaus, Akademisi, Pengamat Ekonomi,  (swisma)