# Feature# Masriani Bentengi Diri dari Covid-19 Dengan Vaksinasi -->

Advertisement

# Feature# Masriani Bentengi Diri dari Covid-19 Dengan Vaksinasi

Senin, 27 September 2021

DAFTAR ULANG.
Masriani saat daftar ulang untuk proses penyuntikan vaksin di gedung Yayasan Sosial Angsapura di Jalan Arif Rahman Hakim Medan.  

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Lonceng jam dinding di kamar tidur Masriani berbunyi 4 kali. Dentingan itu membangunkannya dari tidur dan mengharuskannya untuk segera melakukan aktivitas rutin yang kali ini berbeda dari biasanya.

Ibu dari dua anak ini mengaku setiap harinya bangun sekira pukul 5 pagi dan mulai beraktivitas usai melaksanakan sholat Subuh.

Namun pagi itu dia lebih cepat melakukan tugas rutinnya sebagai ibu rumahtangga. Pasalnya dia harus berkemas-kemas untuk bisa sampai ke gedung Yayasan Sosial Angsapura di Jalan Arif Rahman Hakim Medan.

Ternyata di gedung tersebut rupanya menjadi tempat dilakukannya vaksinasi yang merupakan kerjasama Yayasan Sosial Angsapura dengan Yayasan Dharma Yudha dan Rumah Sakit Umum Madani Medan, Sabtu (25/9/2021)

“Saya harus lebih cepat sampe ke gedung Yayasan Sosial Angsapura dari jadwal yang disebutkan pukul 08.00 WIB karena lokasi vaksinasi dari rumah saya membutuhkan waktu sekira 30 menit, itupun tanpa ada macet,” ungkapnya di sela menunggu antri untuk divaksin.

Masriani mengaku senang mendapat kesempatan untuk divaksin saat kepala lingkungan menawarkan kepada warganya yang bersedia divaksin.

Padahal dia sering mendengar dan melihat di media sosial dampak pasca vaksin selain bisa menyebabkan sakit, lumpuh dan beberapa masalah kesehatan lainnya bahkan juga sampai meninggal, namun itu tidak membuatnya takut.

“Cemas memang ada kalau kita dengarkan apa yang terjadi setelah disuntik vaksin. Apalagi info-info di medsos, bikin merinding dan takut untuk divaksin. Tapi lebih cemas lagi kalau kita tertular bahaya virus Covid-19. Itu bahkan bisa mengakibatkan sampai meninggal,” kata Masriani (43) warga Jalan Jermal II Kecamatan Medan Denai.

Baginya, cemas sich boleh aja tapi harus juga dicermati lebih bijak. Sebab dari jutaan orang yang divaksin pada umumnya tidak ada mengalami masalah serius seperti yang ditakutkan akibat minim informasi dan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Kemauannya untuk divaksin diakuinya sebagai benteng melawan virus Covid-19 sehingga bisa membuat dia percaya diri.

Selain itu juga agar terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok) secara cepat. Karena itu dengan herd immunity diharapkan bisa melindungi diri dari kesakitan dan kematian akibat Covid-19.

Begitupun setelah divaksin, dia tidak mau berlagak seakan kebal dari Covid. Caranya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat dengan mematuhi 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasai mobilitas.

"Mentang-mentang aku udah divaksin, walau masih dosis pertama, aku enggak mau sok patentengan, berlagak kebal tak bisa kena covid," tukas Masriani.

Dengan vaksinasi itu, kata Masriani banyak hal yang bisa diperoleh, seperti membentengi diri dan keluarga dan memiliki kekebalan kelompok juga sekaligus mentaati imbauan pemerintah serta turut membantu dalam ketercapaian target vaksin.

Menurut Masriani, penerapan protokol kesehatan secara ketat terus diterapkan dalam keluarganya. Meski pada awalnya sempat dikritik anaknya dengan menyebutnya terlalu “parno”, akibat ketakutan yang berlebihan.

Namun seiring waktu dan mengetahui banyaknya orang yang meninggal akibat tertular virus mematikan itu, akhirnya anaknya makin menyadari pentingnya menerapkan prokes secara ketat.

Malah diakui Masriani, kedua anaknya sudah divaksin lengkap pertama dan kedua dari kampus tempat mereka kuliah. Demikian pula dengan suaminya yang bekerja di salahsatu instansi pemerintah, sudah terlebih dulu divaksin.

“Saya bukan takut meninggal makanya mau divaksin, sebab ajal itu rahasia Tuhan. Tapi dari informasi Satgas Covid-19 yang saya dapat dari media menyebutkan kasus kematian pasien positif Covid-19 itu ‘penyumbangnya’ adalah mereka yang belum divaksin. Jadi saya tidak ingin abai dalam menjaga kesehatan terutama terhadap bahaya virus corona,” demikian kata Mariani yang siap-siap menunggu gilirannya yang sudah makin dekat dengan nomor antriannya. (swisma)