BI Dorong Pelaku Usaha Gunakan LCS Bertransaksi Bilateral -->

Advertisement

BI Dorong Pelaku Usaha Gunakan LCS Bertransaksi Bilateral

Sabtu, 30 Oktober 2021


GLOBALMEDAN.COM, PARAPAT

Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku usaha gunakan  mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam melakukan transaksi ekspor dan investasi.

"Untuk itu BI saat ini telah menjalin kerja sama melalui LCS dengan negara Jepang, Malaysia, Tiongkok dan Thailand," kata  Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Jakarta, Bayront Yudit Rumondor pada media gathering Bank Indonesia, Sabtu (29/10/2021).

Media gathering yang berlangsung selama tiga hari, Jumat- Minggu  (29-31/10/2021) di hotel Niagara Parapat itu dibuka Kepala Bank Indonesia Wilayah Sumatera Utara, Soekowardojo dihadiri Diputi BI Sumut, Ibrahim, Kepala Divisi Pengembangan dan Ekonomi BI Sumut, Poltak Sitanggang dan lainnya.

Disebutkannya, dengan skema LCS ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan aktif oleh pelaku usaha guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Kerja sama LCS yang telah dilakukan, katanya juga terus menunjukkan perkembangan positif dan berpotensi untuk terus ditingkatkan, baik dari segi nilai transaksi, frekuensi, maupun jumlah pengguna.

Menurutnya, salahsatu program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional melalui pengembangan transaksi LCS itu tersebut tertuang di UU No.2 Tahun 2020, tentang Pemulihan Ekonomi Nasional terkait Covid-19 dan Peraturan Perundang-undangan pada Pasal 26 PP No.23 Tahun 2020, tentang program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Bayront Yudit Rumondor mengatakan LCS adalah penyelesaian transaksi yang dilakukan secara bilateral oleh pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra dengan menggunakan mata uang masing-masing negara melalui bank Appointed cross currency delaer bank (ACCD), dimana ACCD adalah bank yang ditunjuk dalam melayani transaksi LCS nasabah.

Dijelaskannya LCS merupakan penyelesaian transaksi bilateral yang dilakukan oleh pelaku usaha Indonesia dan negara mitra dengan menggunakan mata uang masing-masing.

Dalam pelaksanaan LCS, kementerian/lembaga dapat memberikan kemudahan, fasilitas, insentif, percepatan pelayanan ekspor-impor sesuai ketentuan perundang-undangan. Kemudian ketentuan lebih lanjut diatur oleh PBI dan aturan pelaksanaannya.

Untuk negara mitra yang sudah melakukan kerjasama melalui LCS itu disebutkanya berjalan cukup erat sebagaimana tercermin pada perkembangan investasi langsung antar negara yang relatif stabil dan cenderung meningkat tiap tahunnya.

Tujuan kebijakan LCS ini , katanya adalah mengurangi ketergantungan terhadap mata uang utama dunia, misalnya USD, untuk penyelesaian transaksi, efisiensi biaya transaksi valas melalui direct quotation, dan diversifikasi eksposur mata uang non-USD bagi pelaku pasar.

"Untuk manfaatkan skema LCS ini yakni sangat fleksibilitas transaksi bagi pengusaha dengan adanya threshold transaksi yang lebih longgar dibandingkan transaksi USD/IDR," katanya.

Manfaat lainnya yakni nasabah dapat membuka rekening mata uang lokal mitra di Indonesia nasabah dapat memperoleh financing dalam mata uang lokal mitra di Indonesia untuk kebutuhan setelmen ke negara mitra, misalnya membuka LC dalam MYR, THB, JPY, CNY atau IDR.

Selain itu nasabah LCS dapat melakukan remitansi dalam mata uang lokal untuk penerimaan atau pengiriman gaji atau pendapatan.

Kemudian Direct quotation dan biaya hedging yang relatif rendah, ditambah adanya potensi memperoleh insentif kepabeanan dari Kemenkeu – cq Dirjen Bea Cukai.( swisma)