Sudah Vaksin, Rafa pun Semangat Bangun Pagi -->

Advertisement

Sudah Vaksin, Rafa pun Semangat Bangun Pagi

Rabu, 20 Oktober 2021

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Sembilan belas bulan sebelumnya, rutinitas bangun di pagi hari merupakan siksaan tersendiri bagi Rafa. Remaja 14 tahun yang kini duduk di kelas IX SMP itu menganggap rutinitas itu membuatnya seperti terpaksa mengawali hari.  Ia berharap di kalender ada 'tanggal merah' yang berarti sekolah pun libur.

Pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia memaksa aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah dihentikan.

 Tidak ingin penularan Covid-19 semakin merajalela, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk memindahkan ruang belajar ke dunia maya. Program yang bernama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) itu membuat mahasiswa dan pelajar, termasuk Rafa memanfaatkan gawai dan jaringan internet untuk mendapatkan materi pembelajaran dari guru di sekolah.

Pandemi yang berdampak terhadap kehidupan sehari-hari dan perekonomian itu membuat Rafa harus bersekolah dari rumah. Pembelajaran daring itu ketika Rafa mulai beberapa bulan duduk di semester 2 di kelas VII di sebuah SMP Negeri di Kota Medan. 

Rasa bahagia lantaran tak perlu bangun terlalu pagi dan tergesa-gesa pergi ke sekolah, membuat Rafa seperti mendapat hikmah di balik musibah pandemi Covid-19. Kegiatan sekolah pun berlangsung tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat situasi sebelum pandemi virus corona.

Rafa bisa bangun lebih lama dibandingkan saat situasi bersekolah normal di pagi hari sebelum pandemi.  Namun Mama Rafa, Ina, pun harus ekstra sabar untuk membangunkannya. Sambil mengerjakan pekerjaan rutinnya di dapur, Ina kerap meneriaki anaknya itu supaya lekas bangun dan memeriksa Google Class Room untuk isi daftar kehadiran atau melihat tugas-tugas sekolah. 

Tak hanya bisa bangun lebih lama. Sarapan pun bisa dilakukannya santai dan tak terburu-buru karena takut telat datang ke sekolah. Itu dilakukannya sambil mengecek tugas-tugas sekolah yang dishare melalui whatsapp grup kelas.

Tapi, kebahagiaan itu terkalahkan oleh rasa bosan yang melandanya ketika harus di rumah saja dan tak bertemu dengan teman-teman di sekolahnya.  Lama kelamaan Rafa mengaku bosan. 

"Bosen, enggak bisa ketemu kawan-kawan," ujarnya.

Ketika mulai sekolah daring atau online dari rumah, Rafa baru kelas VII semester 2, kini Rafa sudah kelas IX. Hampir dua tahun Rafa tak ke sekolah.

Ia pun berjanji dalam hati, biarlah tak nyaman karena harus bangun pagi asalkan bisa kembali pergi ke sekolah seperti biasa dan bertemu teman-temannya. 

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Pemerintah Kota Medan memberi isyarat akan membuka Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) 

“PTM Terbatas akan dilakukan secara hybrid, luring dan daring. Ini karena satu kelas diperbolehkan hanya 8 atau maksimal 10 orang, maka yang lain dapat mengikuti secara daring. Kita prioritaskan yang sudah vaksin,” kata Wali kota Medan Muhammad Bobby Afif Nasution. 

Akhirnya pelaksanaan PTM Terbatas di Kota Medan berlangsung pada Senin (11/10/2021) diikuti bagi siswa yang sudah divaksin. Bagi yang belum, maka dapat mengikuti pembelajaran secara daring.

Hari pertama PTM di Kota Medan dilakukan dengan ketat protokol kesehatan (prokes) mulai dari siswa tiba ke sekolah dilakukan pengukuran suhu tubuh, lalu mencuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disediakan dan duduk secara berjarak di kelas dengan meja dan kursi yang telah diatur pihak sekolah.

Meskipun pemerintah tidak mewajibkan bagi siswa yang belum vaksin untuk tidak boleh PTM, namun hanya siswa dan siswi telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 yang dapat ke sekolah.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Topan Ginting mengungkapkan tidak ada larangan bagi siswa yang belum vaksin untuk tidak bisa mengikuti PTM. 

“Hanya saja ini menjadi kebijakan kita. Bagi anak yang akan PTM wajib sertakan surat keterangan vaksin. Karena ini baru pertama kali setelah dua tahun kita tidak melaksanakan pertemuan tatap muka dan yang boleh PTM juga hanya 3% saja. Kalau memang tidak ada hal yang tidak baik terjadi kedepannya boleh dilakukan seluruhnya,” katanya.

Ia menyebut, capaian vaksin di Kota Medan, sudah 65.000 pelajar usia diatas 12 tahun yang mendapatkan vaksin Covid-19 dari jumlah 105.000 pelajar yang ada di Kota Medan.

“Karena itu yang kita anjurkan memang siswa yang sudah divaksin saja yang ikut PTM. Namun untuk aturan pemerintah baik dari Inmendagri atau Ingub tidak ada larangan bagi anak-anak kita atau adik-adik kita untuk mengikuti sekolah tatap muka dan memang diperbolehkan. Namun, karena hari pertama ini kita anjurkan dan usahakan bagi siswa yang sudah vaksin saja," katanya.

Rafa termasuk siswa yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 sebagai persiapan PTM. Ia mengikuti vaksinasi dosis pertama di sekolahnya pada 1 Oktober 2021. Usai divaksin, Rafa mengaku lebih bersemangat karena dapat kembali ke sekolah, meski syaratnya harus bangun pagi! (swisma)