#Feature# Mensyukuri Rezeki yang Terbatas di Tengah Pandemi

0

GLOBALMEDAN.COM, MEDAN
Memperoleh rezeki sekecil apapun itu harus disyukuri. Sekalipun harus menghadapi konsekuensinya. Sebab bagi Candra, rezeki yang diperoleh saat ini sudah merupakan suatu berkah di tengah pandemi Covid-19 yang kondisi perekonomian mengalami tekanan berat

Bagaimana tidak, akibat dampak yang terlihat dari adanya Covid-19 itu tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat tetapi juga perekonomian di berbagai Negara, termasuk Indonesia.

Demikian juga dengan kondisi yang dialami Candra sebagai pedagang makanan dan kue kering di Pasar Sukaramai Kecamatan Medan Denai. Menurutnya sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, dagangannya mengalami penurunan sangat drastis.

Sebagai upaya memutuskan mata rantai penyebaran virus corona, toko makanannya sempat tutup sekira dua bulan pada awal masa pandemi. Konsekuensi yang diterimanya sudah tentu tidak memperoleh penghasilan dan keuntungan dari hasil dagangannya.

“Saya sedih tidak memperoleh rezeki karena toko ditutup. Namun satu sisi juga harus bersyukur karena saya dan keluarga diberi kesehatan,” ungkap Candra usai melayani pembelinya, Senin (13/12).

Bagi Candra rezeki itu tidak mesti mendapatkan uang dari keuntungan usaha. Diberi kesehatan juga merupakan suatu berkah dan rezeki dari Tuhan.

Dalam menjalani usahanya itu, Candra disiplin menjaga protokol kesehatan dengan menerapkan 5 M (menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Karena bentuk kepeduliannya untuk menjaga jangan terjadi penyebaran virus Covid-19, Candra membatasi ruang gerak para pembeli ke tokonya. Selain dia hanya membuka sedikit pintu besi tokonya juga tidak memperbolehkan masuk bagi pembeli yang tidak mengenakan masker.

Menurutnya, dia membuka pintu besi tokonya hanya sebatas untuk masuk 1 badan orang dewasa dan harus mengenakan masker serta menggunakan hand sanitizer yang disediakannya di pintu masuk.

“Saya batasi buka pintu besinya, sehingga pembeli tidak boleh masuk bersamaan. Sedangkan bagi yang tidak memakai masker, tidak boleh masuk, cukup membeli dari luar dengan menunjukkan pesanan yang diinginkannya,” beber Candra.

Diakuinya, sejak pembatasan masuk diberlakukan bagi pembeli di tokonya, Candra mengalami penurunan penghasilan yang signifikan. Jika sebelum pandemi bisa mendapatkan omset Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu per hari, namun saat ini antara 250 hingga Rp 400 ribu per harinya. Belum lagi pembeli yang protes karena dibatasi masuk, bahkan ada yang batal membeli karena kesal dengan batasan yang dibuatnya.

“Sangat menurun penghasilan yang saya peroleh di tengah pandemi. Namun saya mensyukuri atas rezeki yang terbatas ini. Bersyukur itu merupakan hal yang sangat sederhana tapi seringkali dilupakan,” ujar ayah dua anak ini.

Padahal masih bisa diberi kesehatan, rezeki untuk makan dan keuntungan dari berjualan walaupun mungkin sedikit, harus disyukuri dengan apa yang dimiliki saat ini.

Bagi Candra uang yang berkurang didapat bisa dicari lagi, tapi nyawa yang hilang tidak akan pernah bisa kembali lagi jika tidak disiplin menerapkan prokes dan menderita penyakit yang bisa membawa kematian itu.

“Saya mensyukuri rezeki yang saya peroleh terbatas atau sekecil apapun itu karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk hidup hari ini. Jadi sudah layak dan sepantasnyalah saya bersyukur,” pungkas Candra. (swisma)

 

 

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.