Ketua Paruman Walaka Sumut & Ketua PHDI Sumut Hadiri Peletakan Batu Pertama Renovasi Pura Agung Raksa Buana

MEDAN – Koordinator Staf Khusus Kepresidenan, Dr Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana SIP MSi, Ida Rsi Pujangga, Ketua Paruman Walaka Sumut, S Siwaji Raja ST, MSi, Ketua PHDI Sumut, Surya, bersama-sama menghadiri peletakan batu pertama renovasi Pura Agung Raksa Buana, Jalan Polonia Medan, Selasa (2/8/2022).

Pura Agung Raksa Buana merupakan Pura tertua yang ada di Kota Medan dengan luas 2000 meter dan dibangun pada Tahun 1980. Tak hanya menjadi Pura tertua di Kota Medan, Pura ini nantinya diharapkan akan bisa menjadi destinasi salah satu Ikon Kota Medan.

Usai melaksanakan acara peletakan batu pertama, acara juga dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua Suka Duka Dirgayusa Medan, Ketua PHDI Provinsi Sumatera Utara dan Koordinator Staf Khusus Kepresidenan, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana S.IP.,M.Si.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan Sime Krame. Sime Krame diartikan yakni silaturrahmi atau bisa dikatakan bercengkrama.

Dalam sisi Sime Krame, Ketua PHDI Sumut, Surya berharap, agar pemerintah Sumatera Utara dapat lebih memperhatikan dan mendukung segala aspek kehidupan Umat Hindu yang ada di Sumatera Utara.

“Semoga pemerintah selalu mendukung kegiatan atau acara keagamaan Umat Hindu di Kota Medan, Sumatera Utara, baik itu Umat Hindu Tamil maupun Hindu Bali. Karena nantinya umat Hindu dapat selalu mendukung program kerja pemerintah ke depan,” ucapnya.

Surya juga berharap, agar pemerintah Sumatera Utara dapat memberikan bantuan dana baik dari APBD maupun dari dana APBN untuk PHDI Sumut.

Karena menurutnya selama ini, PHDI Sumut belum pernah mendapatkan bantuan dana dari pemerintah, baik itu dana APBN maupun dana APBD.
Peletakan batu pertama oleh Koordinator Staf Khusus Kepresidenan Dr.Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana S.IP.,M.Si

Sementara, Koordinator Staf Khusus Kepresidenan, Dr. Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana S.IP.,M.Si mengatakan, Pura adalah Benteng, yang artinya menjadikan tempat benteng agar Umat Hindu dapat berkembangnya dan menyatukan pemeluk Agama Hindu dari berbagai etnis.

“Maka dari itu, harus ada satu tempat yang dapat menyatukan pemeluk Hindu. Kedepannya Pura ini harus ada sertifikasi sehingga menjadi legalisasi untuk menjadikan alas hak yang kuat. Sehingga umat Hindu di Sumatera Utara dapat memperkuat pondasi dan kekuatan Hindu kedepannya,” ucapnya.

Dirinya juga merespon, usulan dan permintaan dari Ketua PHDI Sumut terkait dana untuk lembaga-lembaga Hindu yang ada di Kota Medan, Sumatera Utara.

“Saya akan berusaha menyampaikan usulan Ketua PHDI Sumut kepada Kemendagri. Agar lembaga-lembaga Hindu dapat bantuan dana dari pemerintah,” katanya.

Ditempat yang sama, Ketua Paruman Walaka Sumut, S. Siwaji Raja ST, M.Si disela-sela kegiatan tersebut menyambut baik dan mendukung pembangunan Pura Agung Raksa Buana, sehingga diharapkan nantinya dapat dipergunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan keagamaan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Umat Hindu di Sumatera Utara.

“Saya menyambut baik pelaksanaan renovasi Pura Agung Raksa Buana ini. Semoga dengan adanya pembangunan renovasi Pura ini dapat bermanfaat untuk umat Hindu dalam pengembangan SDM Umat Hindu di Sumatera Utara, agar dapat semakin maju dan bersatu,” harapnya.
Pura Agung Raksa Buana di Jalan Polonia, Kecamatan Medan Polonia

Sejarah Berdirinya Pura Agung Raksa Buana

Pura Agung Raksa Buana yang terletak di Jalan Polonia, Kec. Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara. Pura Agung Raksa Buana merupakan satu-satunya tempat beribadah Hindu yang datang dari Bali.

Hindu Bali dan Hindu Tamil sejatinya tidak memiliki perbedaan dalam ajaran, baik secara kitab dan sumbernya. Namun yang membedakan hanyalah kegiatan budayanya saja.

Pura Agung Raksa Buana dibangun pada Tahun 1980 dengan luas 2000 meter dan diresmikan Gubernur Sumatera Utara, Khairuddin Naaution pada tahun 1983.

Selanjutnya, Pura Agung Raksa Buana mengalami renovasi pada 12 November 1994, hingga menjadi tempat yang luas dan megah serta indah. Karena terlihat dari seni ukiran-ukiran batu dari kebudayaan Bali.

Di Pura Agung Raksa Buana terdapat dua tempat yaitu Pura dan Pasraman. Pura merupakan tempat beribadah komunitas Hindu yang ada di Indonesia. Pura berasal dari bahasa Sangsekerta, Pur artinya Benteng, dengan maksud benteng yang membentengi orang lagi sembahyang.

Kemudian, yang barus diketahui, bahwasanya wanita yang sedang datang bulan atau haid tidak boleh masuk dan datang ke Pura Agung Raksa Buana.

Selanjutnya, bagi yang ingin melakukan ibadah atau masuk ke Pura harus memakai pakaian yang sopan dan berpakaian bersih serta hati yang bersih. Selanjutnya, jika ingin melakukan ibadah atau memasuki ruangan Pura tidak diperbolehkan memakai pakaian jeans atau celana jeans.

Dapat diketahui bahwa komunitas Hindu Bali atau Hindu Indonesia memuja Dewa Trimurti. Dewa Trimurti ialah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, pelindung alam beserta isinya. (Do)

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.